Apakah anda pernah mendengar nasehat bahwa bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban?. Artinya bahwa segala makanan halal dan tidak menajiskan karena sumber najis adalah hati manusia. Ucapan itu menunjukkan bahwa antara makanan dan hati tidak ada hubungannya. Padahal antara makanan yang masuk kedalam mulut dengan hati manusia mempunyai hubungan yang sangat erat. Orang yang makan rakus dengan orang yang puasa bedanya hanya dalam hati. Orang yang makan rakus karena dorongan hati untuk makan walaupun perut sudah kenyang, sedangkan orang yang puasa karena dorongan hati untuk tidak menyentuh makanan sampai waktu buka telah tiba walaupun perutnya terasa sangat lapar.
Makanan ternyata tidak hanya masuk ke dalam perut lalu dibuang kejamban, tetapi menyangkut juga nyawa manusia. Merebaknya Swine Influenza menunjukkan bahwa manusia harus sadar bahaya terhadap apa yang dimakannya. Penistaan terhadap pengharaman babi menunjukkan bahwa manusia terlalu angkuh untuk mendalami ayat-ayat Tuhan tentang kenapa babi diharamkan.
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS 2:178]
Dari ayat di atas terang sekali bahwa babi diharamkan dalam keadaan normal. Tapi dalam keadaan terpaksa dimana tidak ada makanan lain selain daging babi, Allah mengijinkan memakannya asal tidak melampau batas dan dalam kadar yang sangat kecil hanya untuk mempertahankan hidup. Karena itu manusia harus berdaya upaya untuk mencari makanan yang halal. Jangan sampai makanan halal berlimpah tapi malah mencari-cari yang haram.
Dalam suatu acara perdebatan di salah satu televisi antara partai Islam dengan partai Kristen, ketika menyinggung soal RUU Jaminan Produk Halal, partai Kristen dengan lantang menentangnya. Alasannya, produk halal hanya cocok dan bagus untuk umat Islam tapi belum tentu cocok dan bagus untuk umat lain. Dan dari partai Kristen sangat mengkhawatirkan jika produk halal bersanding dengan produk non-halal, akan terjadi tindakan anarki dari umat Islam terhadap produk non-halal tersebut. Sebuah pandangan yang terlalu dangkal dan kekanak-kanakan.
Tentang organ babi, berdasar penelitian ternyata cocok untuk transplantasi organ manusia. Ada orang yang mempunyai kelainan jantung bisa sembuh dari penyakitnya karena dilakukan transplantasi organ dari babi. Ini menunjukkan bahwa gen babi mempunyai kedekatan dengan gen manusia. Jika demikian penyakit babi pun bisa menular ke manusia. Karena mempunyai kemiripan dengan gen manusia maka penyakit babi yang menular ke manusia bisa menular ke sesama manusia. Cacing pita yang berkembang dalam tubuh babi ternyata bisa juga menjadi parasit dalam perut manusia. Itu berarti jika manusia memakan daging babi maka sebenarnya menyerupai memakan daging manusia.
Menurut WHO sumber dari penyebaran virus di Meksiko adalah peternakan babi. Dan sekarang memasuki level 5 yang berarti bisa menular dari manusia ke manusia. Bila memasuki level 6 berarti Flu babi sudah mengglobal.
Satu pertanyaan yang sebenarnya tidak terlalu penting adalah, jika babi haram kenapa Tuhan menciptakan babi?
Disinilah manusia diuji dengan materi oleh Tuhan. Apakah taat dengan perintahnya atau tidak. Allah telah menunjukkan keharaman babi namun apakah manusia tahu bahwa pengharaman itu demi kebaikan manusia sendiri?
Makanan ternyata tidak hanya masuk ke dalam perut lalu dibuang kejamban, tetapi menyangkut juga nyawa manusia. Merebaknya Swine Influenza menunjukkan bahwa manusia harus sadar bahaya terhadap apa yang dimakannya. Penistaan terhadap pengharaman babi menunjukkan bahwa manusia terlalu angkuh untuk mendalami ayat-ayat Tuhan tentang kenapa babi diharamkan.
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS 2:178]
Dari ayat di atas terang sekali bahwa babi diharamkan dalam keadaan normal. Tapi dalam keadaan terpaksa dimana tidak ada makanan lain selain daging babi, Allah mengijinkan memakannya asal tidak melampau batas dan dalam kadar yang sangat kecil hanya untuk mempertahankan hidup. Karena itu manusia harus berdaya upaya untuk mencari makanan yang halal. Jangan sampai makanan halal berlimpah tapi malah mencari-cari yang haram.
Dalam suatu acara perdebatan di salah satu televisi antara partai Islam dengan partai Kristen, ketika menyinggung soal RUU Jaminan Produk Halal, partai Kristen dengan lantang menentangnya. Alasannya, produk halal hanya cocok dan bagus untuk umat Islam tapi belum tentu cocok dan bagus untuk umat lain. Dan dari partai Kristen sangat mengkhawatirkan jika produk halal bersanding dengan produk non-halal, akan terjadi tindakan anarki dari umat Islam terhadap produk non-halal tersebut. Sebuah pandangan yang terlalu dangkal dan kekanak-kanakan.
Tentang organ babi, berdasar penelitian ternyata cocok untuk transplantasi organ manusia. Ada orang yang mempunyai kelainan jantung bisa sembuh dari penyakitnya karena dilakukan transplantasi organ dari babi. Ini menunjukkan bahwa gen babi mempunyai kedekatan dengan gen manusia. Jika demikian penyakit babi pun bisa menular ke manusia. Karena mempunyai kemiripan dengan gen manusia maka penyakit babi yang menular ke manusia bisa menular ke sesama manusia. Cacing pita yang berkembang dalam tubuh babi ternyata bisa juga menjadi parasit dalam perut manusia. Itu berarti jika manusia memakan daging babi maka sebenarnya menyerupai memakan daging manusia.
Menurut WHO sumber dari penyebaran virus di Meksiko adalah peternakan babi. Dan sekarang memasuki level 5 yang berarti bisa menular dari manusia ke manusia. Bila memasuki level 6 berarti Flu babi sudah mengglobal.
Satu pertanyaan yang sebenarnya tidak terlalu penting adalah, jika babi haram kenapa Tuhan menciptakan babi?
Disinilah manusia diuji dengan materi oleh Tuhan. Apakah taat dengan perintahnya atau tidak. Allah telah menunjukkan keharaman babi namun apakah manusia tahu bahwa pengharaman itu demi kebaikan manusia sendiri?